Entri Populer

Kamis, 22 November 2012

Hukum Berdoa Sambil Angkat Tangan Sesudah Zikir Shalat



Hukum Berdoa Sambil Angkat Tangan Sesudah Zikir Shalat
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Pada dasarnya, mengangkat tangan dalam doa adalah sunnah. Banyak riwayat yang menunjukkannya, bahkan sampai pada derajat mutawatir. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjadikannya sebagai salah satu sebab dikabulkannya doa.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha baik, tidak menerima kecuali yang baik-baik." Kemudian beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh sampai kusut tampangnya dan penuh debu, ia mengangkat tangannya ke langit sambil berseru, "Ya Rabbi, Ya Rabb." Sementara makanannya, minumannya, dan pakaiannya adalah haram. Iapun dikeyangkan dari sesuatu yang haram. Maka bagaimana akan dikabulkan doanya.
Dan dalam hadits Salman, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda, "Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Mulia, malu apabila hambanya mengangkat kedua tangannya kepadanya lalu mengembalikannya dalam keadaan kosong." (HR. Ahmad dan selainnya)
Tetapi jika ada riwayat yang menyebutkan tidak mengangkat tangan dalam kondisi tertentu –baik secara eksplisit (seperti pada khutbah Jum'at dan istisqa) atau implisit (seperti doa istiftah, doa sebelum salam dan sesudah salam)- maka yang sunnah tidak mengangkat kedua tangan dalam kondisi tersebut. Bahkan, bisa termasuk bagian dari mengada-ada hal baru dalam urusan ibadah. Karena asal dari ibadah adalah tauqifi, yakni tidak diketahui kecuali dengan adanya dalil.
Lalu bagaimana dengan doa sesudah zikir ba'da Shalat fardhu? Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama, Tidak boleh. Karena tidak ada dalil shahih dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang mencontohkannya . Yang ada, beliau berdoa sambil mengangkat tangan antara adzan dan iqamah. Sedangkan sesudah zikir ba'da Shalat beliau tidak mengangkat tangan dalam rangka berdoa.
Kedua, Sebagian ulama yang lain membolehkan berdoa dengan mengangkat tangan sesudah zikir ba'da shalat. Alasannya, berdoa saat itu termasuk ibadah mustaqilah (berdiri sendiri) yang tidak memiliki kaitan dengan zikir ba'da shalat. Waktu tersebut adalah waktu bebas untuk melakukan aktifitas seperti berbaring, mengobrol, dan aktifitas lainnya. termasuk di dalamnya berdoa. Bahkan berdoa termasuk ibadah yang pokok. Maka siapa yang ingat akan hajatnya sesudah zikir ba'da shalat lalu ia mengangkat kedua tangannya dalam rangka berdoa itu bukan termasuk bid'ah. Syaratnya, tidak dikaitkan dengan zikir ba'da shalat dan dikerjakan secara terus-menerus atau dirutinkan.
. . . saat seseorang shalat maka ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Karenanya hendaknya ia berdoa di dalam shalatnya dan bukan sesudahnya. . .
Namun bagi siapa hendak berdoa, maka yang lebih afdhal ia berdoa sebelum salam. Karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda –sesudah menjelaskan bacaan tasyahhud-,
ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو
"Kemudian ia memilih doa yang ia suka dan berdoa dengannya." (HR. Al-Bukhari)
Alasan lainnya, saat seseorang shalat maka ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Karenanya hendaknya ia berdoa di dalam shalatnya dan bukan sesudahnya. Walaupun tidak berdosa jika ia berdoa sesudah salam. Tapi perlu dicatat bahwa hal itu tidak boleh dijadikan sebagai amalan sunnah yang rutin sehingga dianggap sebagai paket ibadah shalat atau penyempurna ibadah shalat. Sebabnya, shalat adalah ibadah khusus yang memiliki ketentuan dari jenis, bentuk, , kadar, waktu, tempat, sebab, dan tata caranya dari pembuat syariat. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Rabu, 21 November 2012

Fatwa Mufti Saudi Bagi Penguasa Yang Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah



Fatwa Syaikh Muhammad Ibrahim Alu Syaikh tentang Penguasa Yang Berhukum dengan Selain Syari’ah Allah
Penerjemah: Ustadz Fuad Al Hazimi
Berikut adalah Fatwa Al 'Allamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh (Mufti Saudi sebelum Syaikh Bin Baz). Beliau membagi beberapa kelompok orang-orang yang berhukum dengan hukum selain syari’ah Allah, semuanya kafir murtad.
Pertama.
أن يجحد الحاكمُ بغير ما أنزل الله تعالى أحقيَّةَ حُكمِ الله تعالى وحكم رسوله
Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain syari’ah Allah dan ia juhud (menentang) akan kewajiban menerapkan syari’ah itu maka ia telah kafir murtad.
Kedua.
أن لا يجحد الحاكم بغير ما أنزل الله تعالى كونَ حكم الله ورسوله حقاً، لكن اعتقد أن حكمَ غير الرسول أحسنُ من حكمه وأتم وأشمل
Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain syari’ah Allah dan ia tidak juhud (tidak menentang) akan kewajiban menerapkan syari’ah itu, tetapi ia berkeyakinan bahwa hukum buatan manusia lebih baik, lebih tepat, relevan dan lebih sempurna dibanding syari’ah allah, maka ia kafir murtad.
Ketiga.
أن لا يعتقد كونَه أحسنَ من حكم الله تعالى ورسوله لكن اعتقد أنه مثله
Jika ia tidak berkeyakinan bahwa hukum selain Syari’ah Allah lebih baik tetapi menyatakan bahwa hukum buatan manusia sama baiknya dengan syari’ah allah, maka ia kafir murtad.
Keempat.
أن لا يعتقد كونَ حُكمِ الحاكم بغير ما أنزل الله تعالى مماثلاً لحكم الله تعالى ورسوله لكن اعتقد جواز الحُكم بما يُخالف حُكمَ الله تعالى ورسوله
Ia tidak berkeyakinan bahwa hukum selain Syari’ah Allah sama atau lebih baik dibanding hukum buatan manusia,tetapi ia berkeyakinan bahwa dibolehkan menerapkan undang-undang selain syari’ah allah, maka ia kafir murtad.
Kelima.
وهو أعظمها وأشملها وأظهرها معاندة للشرع، ومكابرة لأحكامه، ومشاقة لله تعالى ولرسوله  ومضاهاة بالمحاكم الشرعية، إعداداً وإمداداً وإرصاداً وتأصيلاً وتفريعاً وتشكيلاً وتنويعاً وحكماً وإلزاماً… فهذه المحاكم في كثير من أمصار الإسلام مهيّأة مكملة، مفتوحةُ الأبواب، والناسُ إليها أسرابٌ إثر أسراب، يحكم حكّامها بينهم بما يخالف حُكم السنة والكتاب، من أحكام ذلك القانون، وتلزمهم به وتقرّهم عليه، وتُحتِّمُهُ عليهم، فأيُّ كُفرٍ فوق هذا الكفر، وأي مناقضة للشهادة بأن محمداً رسولُ الله بعد هذه المناقضة…. فيجب على العقلاء أن يربأوا بنفوسهم عنه لما فيه من الاستعباد لهم، والتحكم فيهم بالأهواء والأغراض، والأغلاط، والأخطاء، فضلاً عن كونه كفراً بنص قوله تعالى: ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
Ini adalah yang paling jelas-jelas kekafirannya, paling nyata penentangannya terhadap Syari’ah Allah, paling besar kesombongannya terhadap hukum Allah dan paling keras penentangan dan penolakannya terhadap lembaga-lembaga (mahkamah) hukum Syari’ah.
Semua itu dilakukan dengan terecana, sistematis  didukung dana yang besar, diterapkan dengan pengawasan penuh, dengan penanaman dan indoktrinasi kepada rakyatnya, yang pada akhirnya akan membuat umat Islam terpecah belah dan terkotak-kotak, lalu menanamkan keragu-raguan dalam diri terhadap Syari’ah Allah dan mereka juga mewajibkan umat Islam untuk mematuhi hukum buatan mereka itu serta menerapkan sanksi hukum bagi yang melanggarnya.
Berbagai bentuk lembaga hukum dan perundang-undangan ini dalam kurun waktu yang amat panjang telah dipersiapkan melalui perencanaan yang matang dan dengan pintu terbuka siap menangani berbagai masalah hukum umat Islam.
Umat Islam pun berbondong-bondong mendatangi lembaga-lembaga ini, sedangkan para penegak hukumnya menetapkan hukum terhadap permasalahan mereka itu dengan keputusan-keputusan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi wasallam dengan merujuk kepada hukum-hukum yang berasal dari aturan dan undang-undang yang mereka buat itu seraya mewajibkan rakyatnya untuk melaksanakan hukum-hukum itu, mematuhi keputusan mereka itu dan tidak memberi celah sedikit pun untuk memilih hukum selain undang-undang mereka itu.
Kekafiran mana lagi yang lebih besar dibandingkan kekufuran ini, penentangan terhadap persaksian “wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah” mana lagi yang lebih besar yang  dibandingkan penentangan ini ?
Sehingga bagi mereka yang menggunakan akalnya semestinya mereka menolak aturan hukum itu dengan penuh kesadaran dan ketundukan hati mengingat  di dalam Undang-undang itu terdapat penghambaan kepada para penguasa pembuat undang-undang itu, serta hanya memperturutkan hawa nafsu, kepentingan duniawi dan kerancuan-kerancuan berpikir dan bertindak. Penolakan ini harus mereka lakukan atau mereka jatuh pada kekufuransebagaimana disebutkan dalam firman Allah (artinya)
Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS Al Maidah 44)
Keenam.
ما يحكم به كثيرٌ من رؤساء العشائر والقبائل من البوادي ونحوهم، من حكايات آبائهم وأجدادهم وعاداتهم التي يسمونها “سلومهم” يتوارثون ذلك منهم، ويحكمون به ويحضون على التحاكم إليه عند النزاع، بقاءً على أحكام الجاهلية، وإعراضاً ورغبةً عن حكم الله تعالى ورسوله فلا حول ولا قوة إلاّ بالله تعالى
Aturan hukum yang biasa diterapkan oleh sebagian besar kepala suku  dan kabilah pada masyakat dan suku-suku pedalaman atau yang semisal dengan itu. Yang berupa hukum peninggalan nenek moyang mereka dan adat istiadat yang diterapkan secara turun temurun, yang dalam istilah Arab biasa disebut: “Tanyakan kepada nenek moyang”.
Mereka mewariskan hukum adat ini kepada anak cucu mereka sekaligus mewajibkan mereka untuk mematuhi hukum adat itu serta menjadikannya sebagai rjukan dan pedoman saat terjadi perselisihan di antara mereka. Ini semua mereka lakukan sebagai upaya melestarikan adat istiadan dan aturan aturan jahiliyyah dengan disertai ketidaksukaan dan keengganan untuk menerima hukum Allah dan Rasul-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka sungguh tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali hanya dengan bersandar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 
(Tahkiem Al Qawaaniin karangan Al Allamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh hal 14 – 20 Terbitan Daar Al Muslim)

Ujian, Rintangan Dan Tantangan Da'wah




(Arrahmah.com) - Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam kehidupan setiap hamba teriring dengan ujian dan bebanan hidup yang silih-berganti. Hal ini Allah Ta'ala jamin keberlangsungannya dalam firman-Nya,
Artinya, "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. al-Baqarah, 2:155)
Serupa pula dengan firman-Nya,
Artinya, "Dan sungguh, Kami akan benar-benar menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar diantara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu." (QS. Muhammad, 47:31)
Demikian juga halnya terhadap dakwah yang haq yaitu dakwah yang didasari oleh petunjuk Yang maha pembuat syari'at dengan bertujuan mentauhidkan-Nya dan mengenyahkan segala bentuk kesyirikan. Maka bentuk dakwah ini senantiasa tidak akan terlepas daripada ujian, rintangan, dan ancaman, baik secara mental maupun fisik. Laksana kata, dakwah yang haq tanpa dibarengi ujian dan rintangan, seperti sebuah hal yang patut dipertanyakan—dakwah seperti apakah itu? Oleh karena beratnya beban yang harus diterima, maka sedikitlah yang mampu melaksanakan dakwah haq ini karena takut akan konsekuensinya. Sebaliknya, mereka yang mampu dan tetap istiqomah menopang ujian dan rintangan demi tersebarnya syari'at Allah di muka bumi ini, mereka akan tegar dan berjiwa besar.
Berikut beberapa ujian dan rintangan para du'at (penyampai dakwah) dalam mendakwahkan yang haq:
1. Dibenci dan dimusuhi
Mendakwahkan yang haq merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim dari Rabb-nya, terutama kepada yang memiliki kemampuan dakwah semisal para du'at. Namun tugas ini sungguhlah berat karena akan mendapat perlawanan dari hizbutthaghut yang tidak akan tinggal diam jika kebenaran yang hakiki ditebarkan di muka bumi. Perlawanan ini telah ada sejak zaman para nabi dahulu dan berkekalan hingga akhir zaman. Akan hal ini, Allah Ta'ala berfirman,
Artinya, "Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa." (QS. al-Furqon, 25:31)
Lalu firman-Nya,
Artinya, "Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin." (QS. al-An'am, 6:112)
Dan juga firman-Nya,
Artinya, "Dan demikianlah Kami adakan bagi tiap-tiap negeri, penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu-daya dalam negeri itu." (QS. al-An'am, 6:123)
Melalui tiga ayat ini, Allah Ta'ala telah menggariskan sebentuk ujian keimanan bagi para hamba pilihan-Nya melalui adanya sekelompok penentang kebenaran dan para penyeru kekafiran yang tak hentinya membuat makar.
Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda,
الْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ: مَؤْمِنٌ يَحْسُدُهُ, وَ مُنَافِقٌ يُبْغِضُهُ, وَ كَافِرٌ يُقَاتِلُهُ, وَ نَفْسٌ يُنَازِعُهُ, وَ شَيْطَانٌ يُضِلِّهُ.
Artinya, "Orang mu'min senantiasa berhadapan dengan lima ujian yang menyusahkan, yaitu:
·         oleh mu'min yang mendengkinya,
·         oleh munafik yang selalu membencinya,
·         oleh kafir yang selalu memeranginya,
·         oleh nafsu yang selalu bertarung untuk mengalahkannya, dan
·         oleh setan yang selalu menyesatkannya." (Al-Firdaus bi Ma'tsur al-Khithob, 4/181)
2. Didustakan
Allah Ta'ala berfirman,
Artinya, "Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu." (QS al-An'am, 6:34)
Dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat tersebut merupakan penghiburan dan ta'ziyah bagi nabi saw lantaran didustakan oleh kaumnya. Ayat ini juga merupakan perintah bagi beliau saw agar bersabar seperti sabarnya para ulul 'azmi dan merupakan janji dari Allah yaitu akan diberi pertolongan dan kemenangan seusai didustakan dan disakiti, sebagaimana firman-Nya di surat al-Mujadalah ayat ke-21, "…Aku dan rasul-Ku pasti menang."
3. Dianggap pembual dan pendongeng
Para ulama robbani seperti juga yang dialami oleh Rasulullah dan para nabi terdahulu, pun mendapat perlakuan yang sangat tidak menyenangkan dari umat yang akidahnya masih dan telah terkontaminasi kesesatan. Mereka menganggap dalil dan hujjah yang disampaikan para du'at merupakan hasil angan-angan dan rekayasa semata. Al-Qur'an dan hadits diremehkan sebagai sesuatu yang dibuat-buat dan dianggap cipta-karya makhluk semata, serta dituduh sebagai alat pemenuh-kepentingan dunia semata. Berikut ayat yang berisi tuduhan-tuduhan keji mereka,
Artinya, "Dan orang-orang kafir berkata, "Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain." Sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, "(Itu hanya) dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." (QS. al-Furqon, 25:4-5)
4. Diejek dan dipermainkan
Zaman memang telah berubah, namun intrik-intrik setan takkan lekang dimakan roda zaman. Keberadaan ulama robbani yang merupakan pewaris para nabi dan sejatinya dimuliakan lagi diikuti, pun kini tak jauh berbeda dengan nasib para ulama di masa lalu. Seruan mereka mengajak umat kepada kebenaran yang hakiki, dianggap lelucon yang pantas ditertawakan. Ancaman mereka yang bersumber al-Qur'an dan as-Sunnah bagi yang menolak dan berpaling untuk mengikuti syari'at, disikapi dingin seolah ancaman itu hanya 'gertak sambal' semata.
Hujjah orang-orang penolak kebenaran di masa ini hanya terpaut kepada dua hal saja, yaitu setia mengikuti agama nenek-moyang dengan mengatakan ( حَسْبُنَا مَا وَ جَدْنَا عَلَيْهِ أَبَاءَنَا ) "cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek-moyang kami mengerjakannya…" (QS. al-Ma'idah, 5:104) dan berpendapat bahwa al-Qur'an dan as-Sunnah sudah tak sejalan lagi dengan perkembangan zaman. Pribadi-pribadi berwatak seperti ini akan selalu eksis dan menjadi batu ujian bagi para du'at. Allah Ta'ala menyebutkan karakter seperti ini dalam firman-Nya,
Artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman." (QS. al-Mutaffifin, 83:29)
Dan firman-Nya,
Artinya, "Alangkah besarnya penyesalan terhadap para hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." (QS. Yasin, 36:30)
Selain itu, mereka para penolak kebenaran–tak sungkan-sungkan melabeli para warosatul anbiya ini dengan gelaran wong gendheng alias orang yang gila. Bahkan kejahilan tersebut mereka sampaikan langsung ke diri Rasulullah saw, seperti pada firman-Nya,
Artinya, "Mereka berkata, "Hai orang yang diturunkan al-Qur'an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila." (QS. al-Hijr, 15:6)
Perhatikan juga perkataan mereka di ayat berikut,
Artinya, "Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas." (QS. adz-Zariyat, 51:52-53)
Namun demikian, hamba-hamba-Nya yang terpilih akan terus gencar menyampaikan risalah kenabian meski mental mereka senantiasa dilemahkan pihak-pihak yang memusuhinya.
5. Didebat dengan kebatilan
Bentuk rintangan berikutnya adalah penolakan melalui berbagai hujjah yang mengandung kebatilan. Para munafiqin ini, terutama yang memiliki kekuasaan—cekatan memilih dan 'menggunakan' para ulama yang masih mempunyai kecenderungan kepada keduniaan untuk menyebarkan opini-opini sesat mereka kepada umat.
Para ulama penyesat umat ini bahkan tak segan-segan mengeluarkan fatwa demi legitimasi syar'i sehingga pemberlakuan undang-undang positif yang berseberangan dengan syari'at Islam menjadi legal. Alhasil, para masyayikh moderat ini mempresentasikan dien Islam secara serampangan tanpa dalil yang syar'i. Perkara ini persis seperti yang telah Allah Ta'ala kemukakan dalam firman-Nya,
Artinya, "Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan." (QS. al-Kahfi, 18:56)
Ad-Darimi meriwayatkan, Ziad bin Hudair berkata, "Umar bin Khattab pernah berkata kepadaku, "Tahukah engkau apa yang akan merusak Islam?" Aku menjawab, "Tidak tahu." Lalu beliau berkata, "Yang akan merusaknya adalah kekeliruan seorang ulama, perdebatan kaum munafik terhadap al-Qur'an, dan berkuasanya para pemimpin yang menyesatkan."
6. Dituduh menipu-daya
Sifat bawaan setan dan para pengikutnya diantaranya adalah pandai menipu-daya. Sifat ini merupakan senjata andalan sejak iblis menipu Adam dan istrinya di surga dahulu. Keadaan ini juga mereka putar-balikkan sehingga para ulama robbani justru yang dituduh telah memperdaya umat dengan penyampaian materi-materi dakwahnya yang dianggap tak sejalan dengan kepentingan kaum sesat tersebut.
Dari golongan manusia yang disebutkan al-Qur'an, ada Fir'aun yang menganggap nabi Musa as telah menipu kaumnya, lalu Fir'aun berhujjah bahwa petunjuknya lah yang benar.
Artinya, "(Musa berkata), "Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!" Fir'aun berkata, "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." (QS. al-Mu'min, 40:29)
Begitu juga makar yang ditujukan para tukang sihir Fir'aun terhadap nabi Musa as dan Harun as dengan menuduh keduanya telah melakukan tipu-daya sihir kepada Fir'aun guna merebut kekuasaan.
Artinya, "Mereka berkata, "Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama." (QS. Thaha, 20:63)
Kedekatan para ulama 'bayaran' terhadap penguasa thaghut di masa ini sudah bukan rahasia umum lagi, maka disanalah loyalitas sosok ulama robbani berperan yaitu gigih memperjuangkan dakwah di jalan yang telah digariskan-Nya dan tegar dalam menghadapi segala perkara yang menyeleweng dari shirathal mustaqim.
7. Dilarang berdakwah
Alangkah besarnya musibah tatkala seorang du'at melaksanakan dakwahnya dengan didasari pendiktean dari pihak penguasa. Ia menjadi tawanan bagi setiap keinginan sang penguasa dan senantiasa berupaya untuk tidak menyelisihi keinginan mereka. Syari'at yang dianggap aneh oleh khalayak awam dan dirasa tak kompeten lagi terhadap perubahan zaman, mereka substitusi dengan fatwa hasil 'ijtihad' hawa-nafsu mereka.
Keadaan ini tentu saja amat bertolak-belakang dengan fungsi para du'at sesungguhnya yaitu sebagai penyampai dalil syari'at yang haq. Oleh sebab itu, para ulama Robbani yang bernaung dibawah panji-panji syari'at dipersempit ruang geraknya dalam berdakwah, bahkan penguasa dan pihak yang bersangkutan dengannya, tak malu lagi untuk 'mengisolasi' geliat dakwah para du'at lurus ini.
Perhatikan berita yang berkaitan dengan perkara ini; beberapa waktu lalu ketua BNPT Anshad Mbaai sempat mengusulkan kepada pemerintah untuk dikeluarkannya sertifikasi ulama di Indonesia. Ide nyeleneh tersebut diluncurkan tak lain untuk menjegal para ulama yang dianggap radikal dan anti bekerja-sama dengan penguasa demi kelanggengan otoriternya.
Rintangan ini bak sebuah pelengkap bagi aksi penjegalan yang sudah lebih dulu 'disosialisasikan' di masa sebelumnya yaitu melarang para ulama 'tertuduh' tersebut untuk menyampaikan dakwahnya di masjid-masjid, di mimbar-mimbar Jumat, atau di media-media massa. Risalah ini serupa dengan yang terjadi di masa Rasulullah saw,
Artinya, "Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)." Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami." (QS. al-Munafiqun, 63:7)
8. Dituduh sesat
Rintangan lainnya yang lazim dihadapi para du'at adalah dengan mengalami tuduhan menyebarkan pemahaman sesat. Hal ini merupakan 'lagu lama' yang diputar-balikkan umat yang masih awam namun tak berusaha keluar dari kejahiliaannya kepada para du'at tersebut. Terlebih para du'at yang menjalani medan dakwah dengan menyambangi umat ke pelosok-pelosok wilayah yang hampir tak terjamah pemerataan pembangunan pemerintah.
Sulitnya menjangkau keberadaan mereka, ditambah 'proyek' pemerintah yang telah menjadikan mereka sebagai 'cagar alam' yang harus dijaga kelestarian budayanya, adat-istiadatnya, beserta 'keunikan' cara beragamanya. Tak ayal lagi menambah rentang jarak yang harus dilalui para du'at untuk melakukan dakwahnya. Namun tak hanya umat yang tersebar di pelosok, keadaan umat di perkotaan pun tak beda mirisnya. Mereka terkontaminasi kebudayaan luar yang tak kalah bahayanya.
Akibatnya, mereka menolak dalil haq dengan HAM, mencurigai para ulama bak perintang kebebasan berekspresi mereka, dan menuduh petunjuk dinullah sebagai sebuah kesesatan.
Dalam sejarah, kaum Syu'aib pun melaungkan kebenaran sebagai suatu kesesatan yang pantas dijauhi.
Artinya, "Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya), "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi." (QS. al-A'raf, 7:90)
Demikian juga yang dilakukan Fir'aun laknatullah kepada rasul-Nya, Musa as.
Artinya, "Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya), "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." (QS. al-Mu'min, 40:26)
9. Dituduh memecah-belah umat
Ujian berupa tuduhan sebagai pemecah-belah umat juga 'lazim' diterima para ulama robbani. Mereka yang mengusung dakwah yang bersumber dalil al-Qur'an dan as-Sunnah harus menerima resiko berupa penolakan umat yang awam dan kaum munafik. Isi dakwahan yang banyak meluruskan kesalahan umat disalah-artikan umat sebagai upaya dalam menghapus bentuk peribadahan yang sudah terbiasa dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu mereka.
Keawaman yang ingin diubah para du'at menjadi kefaqihan, malah dipertahankan demi menjaga warisan nenek-moyang dalam beragama. Dalam firman-Nya, Allah menceritakan hal serupa yang dilakukan oleh Fir'aun berikut dengan cara antisipasi kejinya,
Artinya, "Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun), "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?" Fir'aun menjawab:, "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh diatas mereka." (QS. al-A'raf, 7:127)
10. Dituduh "teroris"
Allah Ta'ala berfirman tentang prilaku para musuhnya dalam memerangi Islam dan para utusan-Nya,
Artinya, "Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya), "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." (QS. al-Mu'min, 40:26)
Terpatri pada diri setiap ulama rabbani dan juga pada diri setiap penuntut ilmu untuk tercapainya tujuan dakwah yang beroleh ridha Illahi. Telah berkata Aisyah ra tentang sabda Rasulullah,
مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسُخْطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَ أَرْضَى عَنْهُ النَّاسِ وَ مَنِ الْتَمَسَ رِضَى النَّاسِ بِسُخْطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَ أَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ.
Artinya, "Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan ridha kepadanya dan akan membuat manusia ridha kepadanya. Sedangkan orang yang mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan akan membuat manusia murka kepadanya." (HR. Ibnu Hibban, Mawaridh adh-Dham'an; 1542)
Tercatat dalam shirah para nabi dan para sholafush sholih terdahulu adalah didapati bahwa barisan terbesar para penentang agama Allah Ta'ala adalah para pembesar kerajaan dan para ahli yang mengelilinginya. Di zaman ini, pemerintah dan para petinggi negaralah yang mewarisi sifatnya.
Karena dengan kekuasaan, mereka leluasa memilah 'oknum' yang dianggap sejalan dengan kepentingannya dan dengan tampuk kepemimpinan berada di tangan, maka mereka mampu memaksakan kehendak dalam roda pemerintahannya. Perkara ini menjadi suatu momok yang menakutkan para pendakwah. Itu sebabnya tak semua du'at berani mengambil resiko ini. Hanya mereka yang gigih mengikuti bentuk perjuangan dakwah para nabi yang mampu mengatasinya. Terdapat suatu hadits berkenaan dengan ini,
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ.
Artinya, "Jihad yang paling utama adalah mengucapkan kalimat yang benar dihadapan penguasa yang sewenang-wenang." (HR. Abu Daud dan At Trmidzi)
Sayyid Quthb dalam kitab Ma'alimun fith-Thoriq mengatakan "Sesungguhnya kemenangan dalam bentuk yang tertinggi ialah kemenangan rohani atas materi, kemenangan akidah atas segala rasa sakit, kemenangan atas semua bentuk ujian, siksaan, dan godaan. Sebuah kemenangan yang akan memuliakan setiap manusia, inilah kemenangan yang hakiki."
Perlakuan kaum kafir dan munafik saat ini terhadap para ulama robbani dan para mujahid fi sabilillah sudah berada pada tingkat yang mengundang laknat Allah Ta'ala. Para pembuat makar yang juga menjadi antek-antek kafir asing itu kian membabi-buta berusaha membabat habis para penegak agama Allah. Sejuta aksi dan fitnah mereka layangkan demi menutup lisan para du'at. Diantaranya dengan tuduhan keji sebagai pelaku teror, sebagai pengikut aliran ekstrim, atau sebagai penganut Islam radikal. Semua julukan itu dilimpahkan agar para du'at menjadi gentar untuk meneruskan dakwah haqnya dan agar umat berpaling serta mengasingkannya.
11. Disiksa agar kembali kafir
Penyiksaan adalah salah-satu ujian yang biasa dialami para ulama robbani dalam mengusung dakwah yang haq. Ujian ini begitu berat bahkan sampai terkadang harus mengalami terpisahnya ruh dari badan. Makar yang kejam ini dilakukan oleh jiwa-jiwa yang sudah meleburkan-dirinya bersama setan laknatullah sehingga hati-nurani dan kefitrahan yang dianugerahkan kepadanya menjadi terkontaminasi dan mati. Allah azza wa jalla menjelaskan,
Artinya, "Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." (QS. al-Mumtahanah, 60:2)
Begitu juga firman-Nya,
Artinya, "Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah.." (QS. an-Nisa', 4:89).
Para nabi dan para sholafush sholih banyak mengalami rintangan seperti ini. Mereka ada yang dibakar, ada yang dikuliti hingga terlihat daging dan tulangnya, ada yang ditindih dengan batu besar di padang pasir nan terik, ada yang dibui tanpa diberi makan, dan beragam siksaan lainnya. Namun iman mereka kepada Rabbul 'alamin tetap terpelihara dalam jiwa-jiwa yang tenang dan yakin akan janji-Nya. Ketakutan manusiawi yang dirasakan dalam menghadapi siksaan dari makhluk, tak ada bandingannya dengan ketakutannya terhadap Allah Ta'ala apabila berlaku khianat dalam dakwah kepada umat. Seperti yang Allah Ta'ala firmankan,
Artinya, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama." (QS. Fathir, 35:28)
Dalam ayat ini Allah Ta'ala menegaskan bahwa para ulama adalah orang yang memiliki rasa takut kepada-Nya dengan sepenuh makna. Meski rasa takut kepada Allah azza wa jalla juga dimiliki oleh kaum mukminin secara umum, namun rasa takut yang sempurna hanya dimiliki oleh para nabi, rasul, dan para ulama robbani.
12. Difitnah agar meninggalkan dakwah yang haq
Ulama, hakikinya adalah mereka yang mewarisi sifat para nabi dalam berdakwah, beramar-ma'ruf, dan bernahi-munkar. Mereka berjihad di jalan Allah dan mampu menerima segala resiko yang mengancam demi tercapainya tujuan dakwah. Di tengah usaha dakwah mereka, mungkin akan mengalami tekanan berupa infiltrasi atau campur-tangan kaum munafik yang menginginkan arah dakwah tak terlalu 'keras' menghantam berbagai kepentingan dunia penguasa dan kroni-kroninya.
Mereka (kaum munafik) akan berupaya 'merangkul' dan menghibahkan bermacam kesenangan dunia agar semangat dakwah para ulama robbani menjadi kendor dan ketaklukan terhadap penguasa bisa terjadi. Dalam satu firman, Allah Ta'ala berkata,
Artinya, "Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina." (QS. al-Qolam, 68:9-10)
Dalam tafsir Ibnu Katsir, dikatakan bahwa Ibnu Abbas ra menjelaskan ayat diatas bahwa jikalau seorang mu'min memberikan suatu keringanan (dalam masalah syari'at) kepada orang munafik, maka orang munafik itu akan memberikan keringanan pula kepadanya. Sebaliknya, jika seorang mu'min menegakkan suatu perkara diatas syari'at, maka kaum munafik pun akan menegakkan makarnya menentang dalil tersebut.
13. Diancam, ditangkap, dipenjarakan, disiksa, atau dibunuh
Berikut beberapa ayat yang bisa dijadikan contoh beberapa makar hizbussyaiton terhadap para utusan Allah,
Allah SWT berfirman:
Artinya, "Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami." Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, "Kami pasti akan membinasakan orang- orang yang zalim itu." (QS. Ibrahim, 14:13)
Artinya, "Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya." (QS. al-Kahfi, 18:20)
Artinya, "Mereka menjawab,"Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami." (QS. Yasin, 36:18)
Artinya, "Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak." (QS. al-Anbiya, 21:68)
Artinya, "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya dan Allah menggagalkan tipu-daya itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu-daya." (QS. al-Anfal, 8:30)
Ditangkap, diusir, dilempari batu, dirajam, dibakar, hingga dibunuh—itulah beberapa siksaan fisik yang lazim menyertai para pendakwah di jalan Allah. Kerasnya siksaan dan pedihnya penderitaan yang dialami tak jua mengikis kekokohan perjuangannya dalam membumikan kalimat tauhidullah. Tak terbetik sedikitpun bagi mereka untuk sudi mengikuti makar kaum munafikin dalam upaya menyesatkan umat dari petunjuk yang hakiki, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah. Baginya hanya ada dua pilihan; Hidup dalam kemuliaan atau mati dalam kesyahidan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Jika ada ulama yang meninggalkan apa yang ia ketahui dari al-Qur'an dan as-Sunnah, lalu mengikuti kehendak pemerintah yang bertentangan dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah murtad keluar dari Islam menjadi kafir, dan berhak mendapatkan hukuman setimpal, baik di dunia maupun di akhirat." (Majmu Fatawa' Ibnu Taimiyyah, jilid ke-35, hal. 372-373)
Begitu pula apa yang disabdakan oleh Rasulullah dalam riwayat Tsauban,

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ الْمُضِلِيْنَ.
Artinya, "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah para imam yang menyesatkan." (HR. Muslim)
Mudah-mudahan Allah Ta'ala menjaga keistiqomahan para du'at dalam menjaga kemurnian dinullah serta membimbing para tholabul 'ilmi untuk ikut-serta mendawamkan kebenaran yang hakiki ini sepenuh kemampuan yang dimiliki. Wallahul musta'an. Semoga bermanfa'at.
Wallahu'alam bish shawab…
____________________________________________
Oleh: Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdul Rahman

Selasa, 20 November 2012

Berilmu Dahulu Sebelum Beramal



(Arrahmah.com) - Islam adalah rahmatan lil 'alamin—pernyataan ini sudah lekat dalam kepala setiap muslim. Selanjutnya yang menjadi sangat penting bagi setiap orang yang mengaku sebagai muslim adalah bahwa ia harus meyakini islam adalah satu-satunya undang-undang kehidupan dan peraturan hidup yang hakiki bagi manusia dan diridhoi-Nya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menerapkan ini dalam hidupnya, ia mendapat janji dari Allah Ta'ala berupa jaminan kehidupan yang mulia di dunia dan di akhirat, seperti firman-Nya,
Artinya, "Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya diantara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar." (QS. an-Nisa', 4 : 162)
Untuk menjaga kesucian dien ini, Allah Ta'ala telah menetapkan para utusan-Nya bagi setiap umat dengan mengirimkan orang-orang yang mujaddid atau orang-orang yang berupaya mengembalikan syaria't sesuai dengan yang diturunkan oleh Allah Ta'ala dan membumikan sunnah-sunnah yang diwariskan oleh Rasulullah saw kepada umat saat ini. Mereka dijadikan oleh Allah Ta'ala sebagai wali di muka bumi untuk tetap mengawal umat sehingga tidak berbelok ke arah yang berseberangan dengan jalan-Nya. Sementara dunia saat ini (baca: orang-orang kafir) sudah bergelora menancapkan syari'at sesatnya guna memalingkan manusia sejauh-jauhnya dari dien yang hak.
Kedudukan ilmu
Sesungguhnya para ulama mujaddid dihadirkan untuk umat karena ia memiliki kecukupan dan kecakapan dalam ilmu, terutama ilmu dien. Hal itu menandakan pentingnya kepemilikan ilmu. Sementara posisi ilmu dalam islam adalah hal yang paling utama sebelum beramal dan yang juga paling utama setelah beriman, sebab fungsi ilmu menyuburkan iman dan menunjukkan jalan kebenaran iman. Al-Qur'an banyak menyebutkan keterkaitan antara ilmu dan iman karena keduanya merupakan sarana yang dapat beroleh kemuliaan dan ketinggian derajat manusia di mata Allah Ta'ala. Seperti firman-Nya,
Artinya, "…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Mujadilah, 58:11)
Ibnu Mas'ud dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan bahwa kedudukan orang-orang beriman jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang kafir meski mereka memiliki kelebihan yang bersifat keduniaan dari orang-orang beriman. Namun derajat orang-orang beriman yang berilmu akan menempati posisi yang lebih baik lagi ketimbang orang yang hanya beriman saja. Hal tersebut dikarenakan hanya dengan sarana ilmu lah, seseorang dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, yang mana yang sesuai dengan standar kebenaran yang telah disyari'atkan Allah Ta'ala kepada manusia dan yang mana yang hanya mengekor kepada thoghut.
Para ulama menetapkan bahwa syarat syahnya suatu amalan adalah ikhlas dan ittiba' (mengikuti). Bagaimana ittiba' bisa berlangsung—disinilah pentingnya peran ilmu. Mana mungkin seseorang bisa mengikuti, sementara ia tidak tahu siapa dan apa yang harus diikutinya… Sementara Rasulullah saw bersabda,
Artinya, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintahku, maka amalan itu tertolak."(HR. Muslim)
Dengan ilmu, manusia bisa memperoleh pengetahuan akan cara hidup yang harus dijalaninya, memperoleh pengetahuan tentang apa-apa yang baik dan apa-apa yang buruk bagi dirinya, mengetahui kesempatannya untuk bisa memperoleh derajat kemuliaan di sisi sang Kholik, bahkan dengan ilmu ia bisa merasakan kehadiran Allah Ta'ala mengawasi dirinya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
Artinya, "Manusia itu lebih membutuhkan ilmu daripada makan dan minum, karena seseorang itu butuh makan dan minum sekali atau dua kali sehari, sedangkan ilmu itu dibutuhkan setiap kali hembusan nafasnya." (kitab Madarijus Salikin)
Rasulullah saw juga pernah menegaskan tentang keutamaan ilmu bagi seseorang,
Artinya, "Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya ia menjadi baik, maka Dia memberinya pemahaman terhadap agama (al-Qur'an dan as-Sunnah)." (HR. Bukhari)
Banyaknya pernyataan dari Allah Ta'ala yang menunjukkan tingginya derajat ilmu diantaranya yaitu bahwa posisi orang yang berilmu dibanding semua manusia adalah bak bulan purnama diantara bintang-gemintang, ia mendapatkan penghormatan dari para malaikat yang menundukkan sayapnya, serta beroleh pertolongan untuk dimintakan-ampunan dari binatang, tetumbuhan, bahkan benda-benda mati disekitarnya.
Allah Ta'ala berfirman,
Artinya, "Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS. al-Baqarah, 2 : 269)
Oleh karena itulah, hanya dengan ilmu—kemuliaan dapat diperoleh. Tentu saja ilmu yang mendapat jaminan kemuliaan bagi pemiliknya adalah ilmu dien atau ilmu syari'at, yang berguna untuk mengetahui segala yang diwajibkan dan segala yang diharamkan kepada muslim yang mukallaf. Ilmu juga merupakan warisan yang paling berharga yang ditinggalkan oleh para nabi dan rasul bagi umatnya sehingga para ulama dan orang-orang berilmu adalah orang-orang yang paling beruntung karenanya. Maka sudah seyogyanya kita selalu memohon kepada Allah Ta'ala agar diberikan kemudahan dalam memperoleh ilmu serta memahamkannya. Allah Ta'ala telah mengajarkan dalam firman-Nya,
Artinya, "…dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha, 20 : 114)
Hal penting kemudian adalah mencari wasilah untuk diperolehnya ilmu yang telah dimohonkan tersebut. Begitu banyak kisah yang bisa kita ketahui bahwa para nabi dan rasul memiliki perjalanan yang panjang dalam usahanya memperoleh ilmu, demikian pula para sahabat, para tabi'in, para tabi'ut-tabi'in, hingga para ulama saat ini. Semuanya berikhtiar dengan segenap kemampuan yang ada.
Lalu bagaimanakah dengan kita sendiri? Apakah yang sudah kita peroleh selama ini?
Sebagian besar mungkin sudah merasa cukup dengan perolehan yang ada, bahkan tak sedikit yang merasa puas karena sudah dilahirkan oleh orang-tua yang muslim. Memang benar, islamnya kita karena keturunan merupakan anugrah yang patut disyukuri—namun modal dasar yang kita sudah miliki tersebut tetap harus ditingkatkan karena ia perlahan bisa memudar bahkan lenyap karena tak pernah disuburkan dengan ilmu.
Para ulama terdahulu memiliki ghiroh luar-biasa terhadap ilmu. Mereka berkemauan keras demi tercapainya ilmu. Melalui perjalanan yang tak sebentar, dengan harta yang mereka habiskan hingga menjadi miskin karenanya, dan dengan menemui begitu banyak orang shalih yang mempunyai kecakapan ilmu yang hidup di zaman mereka.
Rasulullah saw bersabda,
Artinya, "Bahwasanya siapa yang melalui suatu jalan dalam menuntut ilmu, maka akan dimudahkan baginya jalan ke surga…" (Shahih al-Jami' no. 1727)
Manshur bin Ammar al-Khurasani, dalam kitab Al-Muhadditsul Fasil Baina Arraawi wal Waa'i (hal. 220-221), mengatakan tentang orang-orang yang mencari ilmu bahwa mereka keluar dari satu negeri ke negeri yang lain, menelusuri setiap lembah, kusut rambutnya, lusuh bajunya, kempis perutnya, kering bibirnya, dan kurus badannya untuk mencari ilmu. Mereka hanya punya satu impian, yaitu keridhaan pada ilmu. Tidak menghalangi mereka rasa lapar dan dahaga, serta semangat mereka tidak pernah lekang oleh cuaca panas ataupun dingin. Mereka membedakan hadits yang shahih dengan yang dha'if dengan pengetahuan yang kuat, pemikiran yang cemerlang, serta hati yang siap untuk menerima kebenaran. Maka amanlah mereka dari kerancuan dan hal-hal yang dibuat-buat orang dan dari kebohongan para pendusta.
Mereka mengembara mencari ilmu di siang-siang yang panas dan menghidupkan malam dengan menuliskan ilmu yang telah mereka dapatkan. Umur mereka pun habis dalam menekuni ilmu, terlebih kesenangan mereka terhadap dunia yang semakin tak menjadi prioritas. Dunia bagi mereka adalah hari-hari yang berlalu, yang apabila tanpa dihiasi dengan ilmu hanya merupakan kesia-siaan yang bisa mendatangkan kebinasaan bagi manusia.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata dalam kitab Syafahat min Shabril ulama', "Tidak sesuai orang yang menuntut ilmu, kecuali bagi orang yang siap miskin." Beliau juga berkata, "Tidak mungkin menuntut ilmu, orang yang pembosan dan sering berubah pikiran serta merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya. Akan tetapi, menuntut ilmu dengan menahan diri, dengan kesempitan hidup, dan berkhidmat untuk ilmu tersebut, maka dengan itu ia akan beruntung."
Beberapa kisah perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu
Dalam firman-Nya,
Artinya, "…mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. at-Taubah, 9 : 122)
Imam Syafi'i rahimahullah menegaskan bahwa tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu kecuali ia berada dalam keadaan serba kekurangan. "Aku dahulu untuk mencari sehelai kertas pun sangat sulit, sehingga setiap kali selesai menyimak seorang guru—aku pulang lalu mengambil tembikar, pelepah kurma, dan tulang unta. Aku menulis hadits yang telah kuhafalkan disitu dan jika telah tak ada lagi bidang yang tersisa untuk kutulis—aku menyimpannya dalam gentong milik ibuku hingga penuh dengannya." (Kitab Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlih)
Abu Darda' mengatakan, "Kalau aku menemukan satu ayat dalam al-Qur'an dan tidak ada yang bisa menerangkannya kepadaku, kecuali seseorang yang tinggal sangat jauh sekali, maka aku akan temui ia." (Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits, 1/195)
Sa'id al-Musayyab pernah berkata, "Sesungguhnya aku pernah berjalan berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits." (HR. Malik)
Imam Malik bin Anas pernah belajar dari 900 guru, sekitar 300 dari mereka merupakan golongan tabi'in, dan selainnya merupakan tabi'ut-tabi'in. Ia sangat menaruh perhatian pada keotentikan satu riwayat dan sangat berhati-hati agar tidak mengambil riwayat dari orang-orang yang tidak tsiqoh. Dituliskan dalam Tartibul Madarik li Ma'rifati A'lami Mazhabil Malik bahwa Imam Malik sedemikiannya merasakan kemiskinan untuk memperoleh ilmu, sampai-sampai ia menjual kayu atap rumahnya.
Imam Ahmad bin Hambal, seperti yang disebutkan Ibnu al-Jauzi dalam kitab Shaidul Khathir, mengatakan bahwa beliau (Imam Ahmad bin Hambal) sampai dua kali mengelilingi dunia untuk menuntut ilmu hingga beliau dapat mengumpulkan musnad. Sementara Abdullah bin Muhammad al-Baghawi mengatakan bahwa Ahmad bin Hambal berkata, "Aku akan menuntut ilmu hingga aku dimasukkan ke liang kubur."
Dari Ja'far bin Muhammad al-Quthun bahwa Imam Bukhari berkata, "Aku belajar pada seribu orang ulama, bahkan lebih dan aku tidak menuliskan satu hadits pun kecuali kusebutkan sanadnya." Beliau rahimahullah juga berkata, "Aku menulis kitab Ash-Shahih selama sepuluh tahun dan aku mengeluarkan padanya enamratus ribu hadits, dan aku menjadikannya sebagai hujjah antara aku dengan Allah Ta'ala."
Begitu juga keseriusan yang dijalani syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau mempelajari al-Qur'an, ilmu hadits, ilmu nahwu, fiqih beserta hukum-hukum ushulnya, tafsir, dan lainnya dalam usia yang masih belasan tahun sampai-sampai di tempat tinggalnya di Damaskus ia dikenal sebagai seorang yang cerdas, memiliki hafalan yang kuat, serta memahami beragam risalah. Kehidupannya pun juga diwarnai oleh banyak penentangan hingga sempat memasukkannya ke dalam penjara. Namun itu tidak menyurutkan semangatnya, seperti yang dikatakan Ibnu Abdil Hadi, "Syaikh Ibnu Taimiyyah memiliki karangan, fatwa, kaidah, jawaban, dan yang lainnya hingga tidak terhingga. Aku tidak mengetahui seorang pun yang mengumpulkan seperti yang beliau kumpulkan atau menulis seperti yang beliau tulis. Padahal kebanyakan dari tulisannya adalah hasil dari apa yang didiktekan dari hafalan dan ditulis ketika beliau dalam penjara yang tentu tidak ada buku rujukan yang bisa beliau gunakan pada saat seperti itu."
Demikian sekilas perjuangan dan kesungguhan para mujaddid dalam meniti ilmu. Apa yang mereka tinggalkan merupakan sebuah keberuntungan untuk hidup kita di masa sekarang. Seperti sabda Rasulullah saw,
Artinya, "Sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, ia telah mendapat bagian yang sangat besar." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Karya besar mereka sudah diaplikasikan dalam berbagai media yang pada era ini amat mudah kita peroleh dimana-mana. Tinggal kita camkan pada diri kita: kapan akan kita ikuti proyek cara hidup mereka dengan pemenuhan nilai investasi keseriusan fi sabilillah berjangka-panjang demi peraihan akhir yang gemilang seperti mereka… Sementara sudah teramat cukup rasanya kita memenuhi keseharian kita dengan berleha-leha menghambur-hamburkan umur, menikmati berbagai hiburan yang menina-bobokan akal dan mengeraskan hati, bahkan adakalanya hanya serius untuk memenuhi perkara perut semata. Sementara musuh-musuh Islam sudah ditakdirkan akan selalu berupaya mengganyang iman kaum muslimin.
Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita meningkatkan kualitas diri kita sebagai seorang muslim melalui keilmuan yang hakiki. Lalu senantiasa bermunajat agar diberikan kemudahan dalam kefaqihan;
Artinya, "…dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha, 20 : 114).

Wallahu'alam bish shawab…

___________________________

Oleh: Ustadz Abu Jibriel Abdurrahman
http://abujibriel.com